Selasa, 04 Juli 2017

3 Penyebab Tidur Malam Anda Kurang Pulas

3 Penyebab Tidur Malam Anda Kurang Pulas

http://lifestyle.kompas.com/read/2017/07/04/191907020/3.penyebab.tidur.malam.anda.kurang.pulas.
Syafrina Syaaf
Kompas.com - 04/07/2017, 19:19 WIB
Ilustrasi (THINKSTOCK.COM)

KOMPAS.com –  Tidur merupakan kebutuhan utama tubuh untuk mengembalikan tenagan dan energi yang telah terpakai sepanjang hari.
Oleh karena itu, sering kekurangan tidur bisa mendatangkan dampak buruk pada kesehatan tubuh.
Anda yang masih berjuang melawan insomnia atau susah tidur di malam hari sebaiknya simak tiga penyebab sulit tidur seperti terurai berikut ini:
Bekerja di dalam kamar tidurMenurut studi yang dipresentasikan pada American Academy Medicine of Sleep dan the Sleep Research Society, kamar tidur yang juga berfungsi sebagai ruang kerja akan memberikan nuasana tidak tenang dan nyaman.
Tidur merupakan kebutuhan tubuh untuk beristiharat sehingga membutuhkan suasana sekeliling yang menenangkan.
Menonton televisi, bekerja, dan membaca buku, menurut studi tersebut di atas, membuat otak mengidentifikasikan bahwa kasur dan kamar tidur sebagai tempat beraktivitas bukan beristirahat.
Alhasil, Anda sulit mengantuk dan kala tidur seringkali tidak pulas sepanjang malam.
Kebiasaan membiarkan lampu menyalaTak sedikit orang yang tidak bisa tidur justru ketika lampu dimatikan. Jadi, mereka pun terbiasa tidur dengan lampu yang menyala. Seiring waktu, kebiasaan ini membuat Anda menjadi sulit tidur.
Menurut Taylor Bean, seorang nathurapatic, penerangan kamar yang gelap memudahkan Anda cepat berada dalam fase tidur nyenyak sebanyak 70 persen daripada lampu yang temaram.
Dia menambahkan bahwa orang yang sering mengalami susah tidur malam, maka sebaiknya menata kamar tidur dengan suasana rileks dan tenang.
Main ponselMemang paling asik bermain ponsel seperti memperbarui unggahan di media sosial, mengomentari unggahan teman, dan sebagainya di atas kasur menjelang mata mengantuk.
Namun, ingat kebiasaan ini bisa berujung pada insomnia.
Dr Cindy Lee- Dennis, PhD, psikolog dan pakar insomnia, mengatakan, sinar biru yang berasal dari LED ponsel, televisi, tablet, dan sebagainya pemicu utama yang mengganggu siklus tidur
Penulis Syafrina Syaaf
Editor Syafrina Syaaf

Manfaat Tidur Miring ke Kiri


Manfaat Tidur Miring ke Kiri

 
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3243634792281499728#editor/target=post;postID=5525508098399077002
 
Iwan Supriyatna
Kompas.com - 05/07/2017, 11:00 WIB
Ilustrasi tidur(Shutterstock)

KOMPAS.com - Kita semua tahu bahwa durasi tidur yang cukup sangat memiliki peran penting untuk menciptakan kesejahteraan mental dan fisik. Di luar itu, ternyata posisi tidur menjadi faktor pendukung dalam mencapai kesehatan yang optimal.
Tidur dengan posisi menyamping atau miring ke kiri dikatakan bisa menjadi tiket menuju kesehatan yang lebih baik dan tidur berkualitas. Teori ini berawal dari Ayurveda yang menerapkan pendekatan holistik terhadap kesehatan dan pengobatan yang berasal dari India.
Lalu apa manfaat tidur dengan posisi menyamping atau miring ke kiri? Ternyata itu baik untuk pencernaan, punggung dan organ liver kita. Seperti dilansir dari laman Life Hack, berikut adalah enam manfaat yang akan Anda dapatkan ketika tidur dengan posisi menyamping atau miring ke kiri.
1. Memperkuat sistem limfatik
Menurut pengobatan Ayurveda, tidur di sisi kiri memungkinkan tubuh Anda untuk lebih efektif menyaring cairan getah bening dan kotoran melalui kelenjar getah bening. Ini karena bagian kiri tubuh kita adalah sisi limfatik yang dominan. Selain itu, tidur miring ke kiri juga membantu tubuh memproses material sisa dari otak. Sebaliknya, tidur di sisi kanan bisa menurunkan efisiensi sistem limfatik.
2. Memperbaiki pencernaan
Berbaring ke sisi kiri ternyata selaras dengan gravitasi. Secara spesifik, hal ini memungkinkan makanan di perut dengan mudah berpindah dari usus besar ke dalam kolon desendens (dengan kata lain kita cenderung lebih lancar buang air besar saat bangun tidur).
Tidur di sisi kiri juga memungkinkan perut dan pankreas menggantung secara alami (lambung kita terletak di sisi kiri tubuh), yang dapat menjaga produksi enzim pankreas dan proses pencernaan lainnya.
3. Bagus untuk jantung
Dokter telah lama merekomendasikan agar wanita hamil tidur di sisi kiri agar dapat memperbaiki sirkulasi jantung. Bahkan jika Anda tidak hamil, tidur di sisi kiri dapat membantu mengurangi tekanan jantung, karena gravitasi dapat memperlancar pengeluaran getah bening ke arah sirkulasi aorta dari jantung.
4. Baik untuk wanita hamil
Tidur di sisi kiri tidak hanya memperbaiki sirkulasi pada wanita hamil. Hal ini juga dapat membantu meredakan tekanan di punggung, dan meningkatkan aliran darah ke rahim, ginjal, dan janin. Untuk alasan ini, dokter cenderung menyarankan agar ibu hamil menghabiskan waktu tidur mereka sebanyak mungkin di sisi kiri mereka.
5. Mengurangi rasa mulas
Sebuah studi yang dipublikasikan di The Journal of Clinical Gastroenterology menemukan, berbaring di sisi kiri dapat membantu mengurangi gejala asam refluks. Sekali lagi ini karena lambung kita terletak di sisi kiri. Sebaliknya, berbaring di sisi kanan bisa memperparah gejala tersebut. Bila Anda menderita heart burn setelah makan, cobalah berbaring selama 10 menit di sisi kiri Anda.
6. Meringankan sakit punggung
Orang yang menderita sakit punggung kronis atau menahun mungkin akan mendapatkan manfaat dari beralih tidur ke sisi kiri karena tekanan pada tulang belakang akan lebih sedikit.
Catatan
Penting untuk dicatat, bahwa beberapa orang termasuk mereka yang menderita penyakit jantung, sleep apnea, glaukoma, dan sindrom karpal tunnel mungkin tidak mendapatkan keuntungan dari tidur miring.
PenulisIwan Supriyatna
EditorLusia Kus Anna

Sayuran hijau Bantu tingkatkan daya ingat



Nutrisi dalam sayuran hijau mampu memperlambat penurunan fungsi kognitif.

 http://www.suara.com/health/2015/06/30/153400/studi-sayuran-hijau-bantu-tingkatkan-daya-ingat



Studi: Sayuran Hijau Bantu Tingkatkan Daya Ingat

Ririn Indriani | Firsta Nodia

Ilustrasi. (Shutterstock)

Ilustrasi. (Shutterstock)

Nutrisi dalam sayuran hijau mampu memperlambat penurunan fungsi kognitif.


Suara.com - Sebuah studi terkini menunjukkan manfaat mengonsumsi sayuran hijau yang dipercaya dapat membantu meningkatkan daya ingat. Menurut penelitian yang dilakukan Rush University Medical Centre, dengan menambahkan sayuran hijau seperti bayam, kangkung, sawi dalam pola makan sehari-hari bisa membantu memperlambat fungsi kognitif.

Kehilangan memori atau menurunnya fungsi kognitif merupakan salah satu kekhawatiran banyak orang ketika memasuki usia lanjut. Pemimpin studi, Martha Clare Morris berujar bahwa temuannya bisa membawa angin segar bagi para lansia untuk menghalau penyakit demensia Alzheimer dengan konsumsi sayuran hijau.

Untuk mendapatkan temuan ini peneliti melakukan analisis terhadap 950 lansia. Peneliti akan melihat bagaimana penurunan fungsi kognitif pada peserta penelitian yang mengonsumsi sayuran hijau lebih banyak selama lima tahun.

Peneliti menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi 1-2 porsi sayuran hijau memiliki kemampuan kognitif 11 tahun lebih muda dibandingkan mereka yang tidak atau jarang mengonsumsinya. Ketika memeriksa nutrisi yang berperan dalam memperlambat penurunan fungsi kognitif ini, peneliti menemukan bahwa kandungan vitamin K, lutein, folat dan beta-karoten dalam sayuran hijau terbukti baik untuk kesehatan otak. (Zeenews)

Senin, 03 Juli 2017

Mengapa Rambut Sudah Beruban di Usia Muda?

Mengapa Rambut Sudah Beruban di Usia Muda?

 http://lifestyle.kompas.com/read/2017/07/04/100000120/mengapa.rambut.sudah.beruban.di.usia.muda.

Kahfi Dirga Cahya
Kompas.com - 04/07/2017, 10:00 WIB
Aktor Hollywood, George Clooney.(AP Photo)

KOMPAS.com -Timbulnya uban di usia muda bisa membuat orang yang mengalaminya gelisah. Bagaimana tidak, uban selama ini identik dengan orang berusia lanjut. Uban yang timbul sebelum waktunya itu dikhawatirkan akan membuat penampilan lebih tua dari usia sebenarnya.
Ada banyak mitos yang mengaitkan timbulnya uban di usia muda, misalnya saja penurunan dan kenaikan berat badan yang cepat, penggunaan shampo yang tidak cocok, atau latihan fisik yang intens.
Untuk mengetahui pemicu rambut hitam berubah jadi keperakan, Anda perlu paham lebih dahulu bahwa rambut beruban karena kerusakan sel yang disebut melanosit di dasar folikel rambut.  Penyebabnya bisa karena penyakit, paparan lingkungan atau hanya karena faktor usia.
Pakar penuaan dari Mayo Clinic, Dr James Kirkland, mengatakan setiap orang dapat memiliki uban di sepanjang hidupnya, namun keseimbangannya berkurang di usia 40 hingga 50 tahun, dengan tingkat perubahan yang bervariasi sesuai genetik, jenis kelamin dan etnis.
Misalnya orang kulit hitam cenderung lebih lama beruban dibanding orang dari ras Kaukasia. Sementara orang Asia berada di antara kedua ras tersebut. Selain itu, perempuan lebih cepat beruban dibanding pria.
Faktor seperti genetik juga tak bisa dilepaskan dari rambut beruban. Bila salah satu atau kedua orangtua Anda lebih cepat beruban, maka Anda akan cenderung beruban di usia muda.
Kebiasaan merokok juga bisa mempercepat timbulnya uban dan rambut putih yang muncul terlalu dini tersebut merupakan tanda penyakit autoimun, gangguan tiroid dan jantung.
“Jika Anda memiliki penyakit jantung dan rambut Anda beruban, itu bisa jadi tanda perburukan penyakit,” kata Kirkland.
Ahli dermatologi dari Cleveland Clinic, Dr Wilma Bergfeld mengatakan beberapa orang yang ditahan di kamp konsentrasi selama Perang Dunia ke II dan kekurangan nutrisi juga mengalami uban yang prematur.
“Semuanya ditentukan oleh kesehatan sel penghasil pigmen,” ujar Bergfeld. Menurutnya, dia tidak tahu ada orang yang beruban karena penurunan berat badan atau pun olahraga berat.
Semua aktivitas yang merusak rambut, seperti kehilangan berat badan sampai 20 kilogram atau perawatan kemoterapi, lebih berdampak pada kerontokan rambut daripada mengubah warnanya. Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat yang mampu mengembalikan warna rambut.
Selain itu, belum jelas juga apakah stres berat akan membuat rambut cepat beruban. Meskipun rambut Barrack Obama berubah saat menjadi Presiden ke-44 Amerika Serikat, namun menurut Krikland, tidak ada hubungan yang pasti antara rambut beruban dengan stres.
PenulisKahfi Dirga Cahya
EditorLusia Kus Anna

Selasa, 06 Juni 2017

Sering "Ngorok" dan Mengantuk Saat Siang?

Sering "Ngorok" dan Mengantuk Saat Siang? Waspadai "Sleep Apnea"

 

 http://lifestyle.kompas.com/read/2017/06/06/132000020/sering.ngorok.dan.mengantuk.saat.siang.waspadai.sleep.apnea.

 

Kahfi Dirga Cahya
Kompas.com - 06/06/2017, 13:20 WIB
 
KOMPAS.com - Mendengkur sepanjang malam tak hanya membuat orang di sekitar terbangun, namun juga menandakan ada masalah serius pada kesehatan Anda. Mendengkur berlebih merupakan gejala dari sleep anea—kondisi henti nafas beberapa kali saat tidur.
Sleep apnea merupakan biang keladi keluhan sakit kepala pada pagi setelah bangun tidur, mengantuk di siang hari dan masalah serius lain seperti tekanan darah tinggi, stroke hingga penyakit jantung.
Standar yang biasa digunakan untuk mendiagnosis sleep apnea adalah polysomnogram. Tes ini merekam aktivitas otak, jantung, tingkat oksigen dan dengkuran. Tes ini tidak menyakitkan, tapi pasien harus bermalam di laboratorium khusus untuk menjalani tes tersebut.
Pemantauan sleep apnea di rumah biasanya cukup sulit untuk mengukur akurasinya. Namun, saat ini ada alat baru yang diklaim menjadi jembatan antara kenyamanan pasien dan akurasi hasil.
Peneliti mengembangkan one-ounce, berupa koyo (patch) berperekat yang dapat mengindentifikasi gangguan sleep apnea.
Setelah diuji coba perangkat pada 174 orang yang memiliki gangguan sleep apnea, hasilnya 87 persen gangguan sleep apnea bisa didiagnosis dengan alat ini dan tes tradisional, polysomnogram.
Studi lain juga menunjukkan 38 dari 39 orang yang menggunakan alat ini berhasil mendiagnosis sleep apnea. Alat ini bisa menghitung tekanan dengkuran, penyerapan oksigen darah, denyut nadi, pernafasan, waktu tidur dan posisi tubuh. Alat one-source ini masih menunggu izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).
Selain menggunakan alat, kecurigaan memiliki sleep apnea bisa diketahui dari kebiasaan mendengkur, bangun dengan tenggorokan yang terasa berat atau merasa kelelahan meski sudah tidur cukup. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapat pengobatan.
PenulisKahfi Dirga Cahya
EditorLusia Kus Anna
Sumbermenshealth,

Rabu, 08 Maret 2017

Rutinlah Cek Kondisi Ginjal Jika Punya Faktor Risiko Ini

Rutinlah Cek Kondisi Ginjal Jika Punya Faktor Risiko Ini

Rabu, 01 Maret 2017

Amankah Obat Antihipertensi untuk Kesehatan Ginjal?

 http://health.kompas.com/read/2017/02/23/205300623/amankah.obat.antihipertensi.untuk.kesehatan.ginjal.

Amankah Obat Antihipertensi untuk Kesehatan Ginjal?


JAKARTA, KOMPAS.com - Pasien hipertensi sering kali menghentikan konsumsi obatnya karena takut berdampak buruk pada kesehatan ginjalnya.
Menuru Wakil Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, hal itu adalah anggapan yang keliru.
"Selalu kita tekankan obat anti hipertensi dan jantung tidak merusak ginjal. Justru melindungi ginjal dengan mengontrol tekanan darah," kata Tunggul dalam jumpa pers 11th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension di Jakarta, Kamis (23/2/2017).
Tunggul menjelaskan, berhenti minum obat bisa membuat hipertensi tidak terkontrol dan akhirnya malah merusak ginjal. Pasien dengan hipertensi yang sulit terkontrol memang harus rutin konsumsi obat antihipertensi.
Pasien sering kali menghentikan konsumsi obat ketika merasa sudah sehat. Padahal, tanpa menjalani pemeriksaan, hipertensi bisa saja terus menyerang diam-diam dan memicu komplikasi.
Saat tekanan darah tinggi, pembuluh darah secara perlahan dapat rusak, termasuk pembuluh darah di ginjal. "Kerusakan ginjal bisa jadi gagal ginjal tahap akhir yang membutuhkan dialisis atau cuci darah bila tidak diobati," kata Tunggul.
Berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry, hipertensi merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gagal ginjal kronis yang mengharuskan pasien rutin cuci darah.
Obat antihipertensi diberikan bukan hanya untuk mengontrol tekanan darah, tetapi mencegah komplikasi kerusakan organ lain, seperti jantung, ginjal, dan otak. Bahkan menurut penelitian, pengobatan hipertensi dapat mengurangi terjadinya gagal jantung hingga 50 persen.
Penulis: Dian Maharani
Editor : Bestari Kumala Dewi
TAG: